Polikrisis: Tantangan Demokrasi Indonesia di Usia 78 Tahun
Indonesia, di usia kemerdekaannya yang ke-78, tengah menghadapi badai polikrisis. Bukan hanya penurunan kualitas demokrasi yang mengkhawatirkan, tetapi juga disrupsi digital, krisis lingkungan, dan merosotnya kesejahteraan rakyat yang saling berkaitan dan memperparah situasi. Bagaimana akademisi berperan? Pertanyaan ini menjadi inti diskusi hangat dalam rangkaian Dies ke-69 Fisipol UGM.
Prof. Dr. Suharko, Guru Besar Sosiologi UGM, dalam orasi ilmiahnya mengungkap urgensi mengembalikan ruh demokrasi. Menurutnya, demokrasi inklusif harus diwujudkan dengan mengurangi konsentrasi kekuasaan dan memberdayakan individu. Hal senada disampaikan Dr. Arie Sudjito, pakar Sosiologi Politik Fisipol UGM, yang menekankan pentingnya “politik emansipasi”. Ia berpendapat bahwa keterlibatan aktif masyarakat, terutama kelompok terpinggirkan, dalam proses politik sehari-hari sangat krusial. Pemilu 2024, menurutnya, walau berhasil meredam polarisasi identitas, masih gagal mengatasi praktik politik dinasti yang merajalela. “Etika politik bukan hanya jargon saat sidang MK, tetapi harus menjadi bagian dari percakapan sehari-hari,” tegasnya.
Diskusi yang melibatkan politisi Dr. Rieke Diah Pitaloka, pakar hukum Bivitri Susanti, dan dimoderatori Milda Longgeita Pinem ini menunjukkan keprihatinan mendalam terhadap regresi demokrasi di Indonesia. Dekan Fisipol UGM, Wawan Mas’udi, menyatakan Dies tahun ini dimaksudkan sebagai refleksi kritis terhadap situasi terkini dan upaya mencari solusi bersama. Dukungan juga datang dari Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, yang mengapresiasi kontribusi Fisipol UGM, khususnya dalam inovasi kebijakan dan peningkatan jumlah mahasiswa pascasarjana.
Perdebatan akademis ini menjadi sorotan penting bagi perkembangan berita politik di Indonesia. Ia mengingatkan kita pada tantangan besar dalam memperkuat demokrasi, menavigasi era digital, dan mencari jalan keluar dari krisis multidimensi yang sedang dihadapi bangsa. Peran akademisi, seperti yang ditekankan dalam diskusi ini, sangat vital dalam membangun solusi dan mengarahkan Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.
**(Bagian Kontak UGM tetap dibiarkan)**