## Kembalinya Donald Trump: Pelantikan Presiden AS ke-47 dan Dampaknya Terhadap Diaspora Indonesia
Hari Senin, 20 Januari 2025, menandai sebuah momen bersejarah di Amerika Serikat: pelantikan Donald Trump sebagai Presiden ke-47. Peristiwa ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan juga menandai babak baru dalam politik Amerika dan menimbulkan berbagai spekulasi, khususnya bagi diaspora Indonesia di Negeri Paman Sam. Artikel ini akan membahas secara detail rangkaian acara pelantikan, serta mengkaji potensi dampak kebijakan Trump terhadap warga negara Indonesia yang tinggal dan bekerja di Amerika Serikat.
**Upacara Pelantikan yang Megah dan Meriah:**
Pelantikan Presiden Amerika Serikat merupakan upacara kenegaraan yang sakral dan penuh simbolisme. Acara yang akan berlangsung di Washington D.C. ini akan diawali dengan kebaktian di Gereja St. John, Lafayette Square, sebuah gereja bersejarah di jantung kota. Setelah itu, Trump dan Wakil Presiden terpilih, James David Vance, akan mengikuti tradisi minum teh di Gedung Putih sebelum menuju puncak acara.
Puncak acara pelantikan akan berlangsung di West Lawn, US Capitol, dimulai pukul 09:30 waktu setempat (14:30 GMT). Upacara akan diawali dengan serangkaian penampilan musik, termasuk penampilan penyanyi country ternama Carrie Underwood yang akan membawakan lagu patriotik “America the Beautiful.” Suasana akan semakin meriah dengan berbagai pertunjukan lainnya yang dirancang untuk merayakan momen bersejarah ini.
Kemudian, momen paling krusial tiba: pengucapan sumpah jabatan oleh Trump dan Vance. Trump akan secara resmi memulai masa jabatannya setelah mengucapkan sumpah setia untuk menjalankan tugas kepresidenan dengan sebaik-baiknya dan melindungi Konstitusi Amerika Serikat. Pidato pelantikan Trump yang sangat dinantikan, akan menjadi sorotan utama acara, di mana ia akan menyampaikan visi dan misi pemerintahannya untuk empat tahun ke depan.
Setelah pengucapan sumpah, Trump akan menuju Ruang Presiden untuk menandatangani dokumen-dokumen penting sebagai langkah awal pemerintahannya. Acara dilanjutkan dengan jamuan makan siang yang diselenggarakan oleh Komite Kongres Gabungan untuk Upacara Pelantikan. Setelah itu, parade meriah akan dimulai dari Capitol menuju Pennsylvania Avenue dan berakhir di Gedung Putih, menampilkan berbagai atraksi dan mengajak partisipasi masyarakat luas. Malam harinya, tiga pesta pelantikan bergengsi akan menghibur para tamu undangan dan pendukung Trump, dengan penampilan artis-artis ternama seperti The Village People dan Lee Greenwood.
**Kehadiran Tamu Kehormatan dan Antisipasi Publik:**
Pelantikan Presiden AS selalu menarik perhatian publik dalam dan luar negeri. Upacara ini akan dihadiri oleh sejumlah tamu penting, termasuk Presiden dan Wakil Presiden yang akan lengser, Joe Biden dan Kamala Harris, serta beberapa mantan presiden dan ibu negara, seperti George dan Laura Bush, serta Barack Obama (meskipun Michelle Obama dikabarkan tidak akan hadir). Kehadiran para senator, anggota Kongres, perwakilan pemerintahan yang baru, dan tamu-tamu internasional lainnya akan semakin memeriahkan acara.
Antisipasi publik terhadap pelantikan ini sangat tinggi. Tiket untuk menyaksikan upacara secara langsung sangat sulit didapatkan, dengan anggota Kongres mendapatkan alokasi tiket untuk didistribusikan kepada konstituen mereka. Bagi masyarakat yang tidak dapat hadir langsung, siaran langsung akan tersedia melalui Gedung Putih, saluran berita BBC, dan berbagai platform media lainnya. Pihak berwenang memperkirakan sekitar 200.000 orang akan memadati Washington D.C., terdiri dari para pendukung dan juga pengunjuk rasa.
**Dampak Terhadap Diaspora Indonesia:**
Kembalinya Trump ke kursi kepresidenan juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan diaspora Indonesia di Amerika Serikat. Beberapa warga negara Indonesia, seperti Nindya, seorang mahasiswa Harvard, mengungkapkan adanya kekhawatiran teman-temannya terkait kebijakan imigrasi Trump yang dianggap lebih ketat dan potensial menimbulkan dampak negatif bagi mahasiswa internasional. Nindya sendiri mengaku telah mendapatkan himbauan dari Harvard International Office untuk kembali ke kampus sebelum pelantikan.
Chloe, warga Indonesia yang telah lama tinggal di Amerika Serikat dan memiliki green card, mengungkapkan kekhawatirannya yang lebih luas terhadap dampak kebijakan imigrasi Trump terhadap para imigran secara umum. Ia mengingat kembali kebijakan imigrasi Trump di masa jabatan pertamanya yang dianggap keras dan represif. Kekhawatiran ini diperkuat oleh pengalamannya menyaksikan deportasi dan penggerebekan yang dilakukan oleh ICE (Immigration and Customs Enforcement).
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Parahyangan, Idil Syawfi, memberikan perspektif yang lebih akademis. Menurutnya, dampak langsung terhadap Indonesia kemungkinan kecil, khususnya terkait kebijakan imigrasi. Namun, Idil memprediksi adanya potensi dampak negatif pada warga negara Indonesia yang bekerja di AS dan bergantung pada anggaran pemerintah federal, seiring dengan kemungkinan pengetatan anggaran dan potensi pemecatan ekspatriat. Pemerintah Indonesia, menurut Idil, dapat melakukan mitigasi terhadap dampak tersebut. Secara umum, Idil menyarankan sikap wait and see untuk mengamati perkembangan kebijakan pemerintahan Trump selanjutnya.
**Kesimpulan:**
Pelantikan Donald Trump sebagai Presiden ke-47 Amerika Serikat akan menjadi momen bersejarah yang sarat dengan simbolisme dan antisipasi. Meskipun kemungkinan dampak langsung terhadap Indonesia dinilai relatif kecil, kehawatiran di kalangan diaspora Indonesia tetap ada, terutama terkait kebijakan imigrasi. Penting bagi pemerintah Indonesia untuk memantau situasi dengan cermat dan melakukan langkah-langkah mitigasi yang diperlukan untuk melindungi kepentingan warga negaranya di Amerika Serikat. Ke depan, kita perlu mencermati kebijakan-kebijakan Trump dan bagaimana hal tersebut dapat berdampak terhadap hubungan bilateral Indonesia dan Amerika Serikat.